KITAB NOL SUARA: Ketika Angka Nol Lebih Nyaring dari Seribu Pidato
Mari Menyeruput Muhasabah... Temani tulisan ini dengan secangkir kopi. Semoga setiap tegukan menghangatkan tubuh, dan setiap renungan menghangatkan jiwa.
KITAB NOL SUARA
Ketika angka nol lebih nyaring daripada seribu pidato.
Di pesantren ada satu pelajaran yang selalu diulang-ulang oleh para masyayikh: >
الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق
Kebenaran tidak diukur dari siapa orangnya, tetapi oranglah yang diukur oleh kebenaran.
Entah mengapa, petuah itu kembali terngiang ketika membaca kabar tentang Alimin Ribut Sujono. Hakim yang pernah menjatuhkan vonis mati kepada Ferdy Sambo itu mengikuti uji kelayakan sebagai calon Hakim Agung.
Hasilnya...
Nol suara
Bukan satu yang nyasar.
Bukan dua yang kasihan.
Benar-benar nol.
Saking sunyinya angka itu, konon kalkulator di ruang sekretariat sempat meminta di-restart. Takut ada tombol yang macet. Setelah dicek berkali-kali, hasilnya tetap sama.
Nol
Di sebuah pesantren, beberapa santri yang sedang mengaji Fathul Mu'in ikut penasaran.
"Mungkin ada bab tentang ini," gumam seorang santri.
Rak kitab pun dibongkar.
Fathul Mu'in dibuka.
I'anatut Thalibin diselak.
Bughyatul Mustarsyidin diperiksa.
Al-Asybah wan Nazhair karya Imam As-Suyuthi ikut diturunkan dari rak paling atas.
Mereka mencari satu kaidah yang belum pernah diajarkan:
" Bab tentang bagaimana memahami angka nol dalam urusan dunia".
Dicari sampai halaman terakhir.
Tidak ketemu.
Seorang kiai yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum.
"Kalau bab itu tidak ada di kitab, Nak."
"Lalu ada di mana, Yai?"
"Di kitab kehidupan. Dan kitab itu jilidnya belum selesai ditulis".
Semua santri terdiam.
Hanya suara kipas angin yang masih istiqamah berputar.
Di pojok serambi, seorang santri senior membuka kitab Al-Asybah wan Nazhair.
Ia menemukan kaidah yang sangat masyhur:
الأمور بمقاصدها
Setiap perkara dinilai berdasarkan tujuan dan pertimbangannya.
Ia menutup kitab perlahan.
"Lalu apa tujuan di balik hasil ini?"
Tak ada yang menjawab.
Memang tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang langsung tersedia di rak perpustakaan.
Di sudut lain, santri yang sedang menghafal Alfiyah Ibnu Malik justru nyeletuk,
"Berarti ini bukan bab nahwu."
Temannya menjawab,
"Bukan juga bab sharaf."
Yang lain menyahut,
"Mungkin ini bab yang hanya dipahami para ahli politik."
Kiai kembali tersenyum.
"Sudahlah. Jangan sibuk menebak isi hati orang. Itu bukan wilayah kita."
Benar juga.
Sebab hanya para pemilih yang mengetahui alasan mereka memberikan atau tidak memberikan suara. Orang luar boleh bertanya, boleh berdiskusi, tetapi tidak boleh mengaku mengetahui isi hati orang lain.
Namun rakyat juga memiliki hak untuk merenung.
Mengapa sebuah angka bisa berbunyi begitu keras?
Mengapa nol terasa lebih ramai daripada seratus?
Konon, malam itu angka nol sedang duduk sendirian.
Angka satu lewat sambil melambaikan tangan.
Angka dua ikut menyapa.
Sampai angka sembilan datang membawa kopi.
Nol hanya tersenyum tipis.
"Hari ini orang-orang membicarakanku."
Padahal selama ini, ia hanya dianggap pelengkap di belakang angka-angka besar.
Di pesantren ada lagi satu kaidah yang sering diulang para guru:
والله أعلم بالسرائر
Allah-lah yang paling mengetahui isi hati dan rahasia manusia.
Mungkin itulah penutup yang paling bijak.
Karena pada akhirnya, hasil pemungutan suara adalah fakta.
Sedangkan alasan di baliknya masih menjadi ruang tafsir.
Dan republik ini, seperti kitab kuning yang belum selesai disyarahi, selalu menyisakan halaman-halaman yang membuat pembacanya berhenti sejenak, menutup kitab, ditemani , lalu bergumam pelan,
"Masya Allah... ternyata tidak semua pelajaran hidup ada di dalam kitab. Sebagiannya Allah tulis langsung di panggung sejarah." Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Terima kasih telah menyeruput muhasabah hari ini. Semoga setiap renungan menjadi cahaya bagi hati, setiap langkah semakin mendekat kepada Allah, dan setiap perjalanan mengantarkan kita untuk terus PULANG kepada-Nya.
Penulis
Gus Isqowi Maestro Muhasabah | Founder Rumah Dai | Penggagas Gerakan & Pengasuh Majlis PULANG